(Untuk teman-teman seangkatan yang selalu ku kenang)
Janganlah menjejali kepala dengan pertanyaan yang bermuara pada bayang-bayang misteri hingga membuat batinmu protes karena menurutmu tak ada satu pun gambarku terpancang bersamamu di tempat perhentian mimpi-mimpi kita.
Janganlah menjejali kepala dengan pertanyaan yang bermuara pada bayang-bayang misteri hingga membuat batinmu protes karena menurutmu tak ada satu pun gambarku terpancang bersamamu di tempat perhentian mimpi-mimpi kita.
Bukankah kini
telah menjadi nyata, deburan ombak yang mengombang-ambingkan biduk tua
kita telah berbesar hati merapatkannya mendekati dermaga. Tetapi, kau
seperti tak tahu saat aku menguntitmu menyisir pantai, bermain dengan
cangkang keong dan seekor ubur-ubur hingga kau sejenak terlupa akan hiu
besar yang kemarin nyaris membalikkan biduk kita.
Cukupkanlah tatap tanyamu, karena aku selalu ada bersamamu ketika kau tersenyum bahagia atau saat kau berkutat di semak berduri, tikungan tajam, kerikil yang menyala, dan tunggul-tunggul bambu dengan sembilu tajam mengilukan gigi.
Begitu pun saat kau berhenti sejenak menyeka keringat dan darah, mencabuti onak yang menancap di telapak kaki, aku selalu ada dan melakukan hal yang sama, bahkan kita saling membersihkan kepala yang tadi terantuk pada pohon beringin yang dihuni ribuan ulat bulu.
Cobalah menatapku: senyum dan tawaku sama seperti kamu, duka dan heningku sama juga seperti kamu. Lihatlah aku dengan mata hatimu.
Karena jika kau tetap memaksakan diri untuk menemukan jejakku di rimbunan belukar yang terkuak, dan mengira akulah yang melintas di situ berkali-kali. Kau takkan menemukannya.
Kini jelaslah bagimu, mengapa kemarin aku tak mengguratkan serpihan arang atau mencoret-coret tanah untuk menandai perjalananku, karena ku tahu hujan yang bersimbur tadi malam tentu akan meluruhkannya.
Aku hanya mempertemukan noktah-noktah samar, gabungan lena dan jaga menjadi garis-garis sketsa yang bisa transparan dalam jiwa yang bertentu tuju – itu pun jika aku sendiri yang menghikmatinya. Itulah yang membedakanku denganmu.
Maka maafkanlah, karena aku tetap pada cara pandangku yang tak mudah terpancing oleh gaya hidupmu. Aku tetaplah diriku yang tak ingin terlalu banyak diketahui tentang apa yg telah, sedang, dan akan kulalui. Biarlah rute yg kutempuh tetap menjadi misteri bagimu sampai nanti kau temukan jejak langkahku di jalan setapak yang juga kau lalui.
SUMBER : https://www.facebook.com/edo.s.datangam?fref=ts
Oleh: Edoarusman
Patra Ista220, 26 Maret 2014
Cukupkanlah tatap tanyamu, karena aku selalu ada bersamamu ketika kau tersenyum bahagia atau saat kau berkutat di semak berduri, tikungan tajam, kerikil yang menyala, dan tunggul-tunggul bambu dengan sembilu tajam mengilukan gigi.
Begitu pun saat kau berhenti sejenak menyeka keringat dan darah, mencabuti onak yang menancap di telapak kaki, aku selalu ada dan melakukan hal yang sama, bahkan kita saling membersihkan kepala yang tadi terantuk pada pohon beringin yang dihuni ribuan ulat bulu.
Cobalah menatapku: senyum dan tawaku sama seperti kamu, duka dan heningku sama juga seperti kamu. Lihatlah aku dengan mata hatimu.
Karena jika kau tetap memaksakan diri untuk menemukan jejakku di rimbunan belukar yang terkuak, dan mengira akulah yang melintas di situ berkali-kali. Kau takkan menemukannya.
Kini jelaslah bagimu, mengapa kemarin aku tak mengguratkan serpihan arang atau mencoret-coret tanah untuk menandai perjalananku, karena ku tahu hujan yang bersimbur tadi malam tentu akan meluruhkannya.
Aku hanya mempertemukan noktah-noktah samar, gabungan lena dan jaga menjadi garis-garis sketsa yang bisa transparan dalam jiwa yang bertentu tuju – itu pun jika aku sendiri yang menghikmatinya. Itulah yang membedakanku denganmu.
Maka maafkanlah, karena aku tetap pada cara pandangku yang tak mudah terpancing oleh gaya hidupmu. Aku tetaplah diriku yang tak ingin terlalu banyak diketahui tentang apa yg telah, sedang, dan akan kulalui. Biarlah rute yg kutempuh tetap menjadi misteri bagimu sampai nanti kau temukan jejak langkahku di jalan setapak yang juga kau lalui.
SUMBER : https://www.facebook.com/edo.s.datangam?fref=ts
Oleh: Edoarusman
Patra Ista220, 26 Maret 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar